Artikel :: Puisi
Bara di bukit karang
Sabtu, 18 April 2009 23:30 WIB

Di sebuah bukit nun jauh disana ada tarian gelap asap hitam
menyemburkan anak panah kegelisahan
di sepinya alam pedesaan satu anak panah menusuk dadaku tembus ke tulang punggung hingga aku lari tak kenal diri menghampiri asap gelap yang terus menari tidak terkendali
Ya Allah, merah membara
berjuta mataku berkedip, berjuta tanganku menggisik tetapi tetap saja
seaneka warna jagawana yang berjuang keras dihempas ombak lautan merah membara, sayang, mengenaskan
gelisah asap hitam di angkasa tinggi tidak menyentuh hati si pembasmi sunyi, yang disamping bukit melulu tidur nikmat bermimpi
kegelisahan yang terjadi sunyi dari perhatian, dari pertolongan, dari belaian
peradaban di bawah sana, ah peradaban, apa itu peradaban?
tengkorak karang sehitam arang jatuh tak berdaya ditelan jurang
lama terdengar suara dentuman, untuk tidak dilupakan, untuk tidak sekedar kabar, untuk tidak hanya dikenang tetapi harus terukir di setiap prasasti hati, sebagai tekad, perbaiki dan lestari
senja terlelap dan terlelap, lelah, memikul duka, meninggalkan duka tentang kegelisahan malam, tentang binatang malam menyambut datangnya bulan yang terhalang awan hitam penderitaan, tentang bangkai pepohonan, tentang bukit yang sepi menggigil diterpa angin
dalam dengus memburu kuberlari tak terkendali
dalam bisu kubertanya, bertanya – tanya
adakah balas budi yang tidak dibeli
untuk bukit yang kini bugil dilumat api?
Topik
Cicelot, 2002
Baca juga:


