Artikel :: Dekati Sumedang


Tinggalan Arkeologi di Gunung Tampomas


Sabtu, 23 Januari 2010 23:22 WIB

YAYASAN Padaringan berhasil menemukan sejumlah benda purbakala di delapan titik, mulai area puncak hingga kaki belahan lereng timur Gunung Tampomas. Kedelapan lokasi tersebut disebut sebagai Blok Ciputrawangi, Leweung Candi, Puncak Narimbang, Batulawang, Kabuyutan, Sawah Kalapa, Puncak Manik, dan Cibanteng. Benda-benda itu disebutkan temuan baru.

Puluhan tahun sebelumnya, tinggalan arkeologi yang terdapat di Kabupaten Sumedang itu sempat mendapat perhatian dari sarjana Belanda N.J Krom (1914). Ia memasukkan tinggalan arkeologi itu ke dalam buku inventarisnya yang berjudul Rapporten van denOudheidkundig Diens in Nederlandsch Indie. Dalam laporan tercatat temuan berupa trisula, cincin emas, tempayan, pot, dan ketel dari tanah, cincin kaki dari kuningan, manik-manik, anting emas gelang kuningan, kapak tembaga, pot tanah, bel, dan genta perunggu.

Di Distrik Cimalaka, Krom (1914) menginventarisasi temuan yang sangat erat kaitannya dengan temuan Yayasan Padaringan yang diketuai oleh Edah Jubaedah, S.S. Waktu itu Krom menginventarisasi temuan berupa cincin emas (Museum Pusat No. 3886) di Cimalaka, dan di Tampomas dicatat empat buah teras dengan batu-batu. Di puncaknya berdiri sebuah patung Ganesa, bekas kaki, dan enam benda kecil antara lain berbentuk genta dan landasan.

Setelah Krom, baru berpuluh tahun kemudian penelitian arkeologi di daerah Sumedang dilakukan, khususnya di kawasan Gunung Tampomas. Balai Arkeologi Bandung melaksanakan dua penelitian, yang masing-masing dipimpin oleh Lucas P. Sitorus (1987) dan Lutfi Yondri (1998). Kedua penelitian berhasil menambahkan data inventaris yang telah ada. Penelitian yang dipimpin oleh Lucas P. Sitorus (1987) berhasil mendeskripsikan tinggalan arkelogi yang terdapat di puncak Gunung Tampomas, yang oleh masyarakat setempat disebut sebagai Sanghyang Taraje.

Pengamatan terhadap struktur bangunan berundak ini memperlihatkan teknologi struktur yang sederhana. Sistem yang digunakan dikenal sebagai sistem konstruksi massa, yakni dengan hanya menumpuk komponen/material batuan yang dipakai sehingga tercipta suatu massa yang homogen. Selanjutnya untuk mendapatkan dinding yang rapi dilakukan pengaturan letak batuan di bagian tepi struktur dinding tersebut. Hal ini tampak terutama pada struktur di halaman ketiga, bagian yang paling utuh dari keseluruhan bangunan berundak tersebut.

Luas halaman utama bangunan berundak tersebut adalah 14,6 m x 6,7 m. Di bagian tengah terdapat dua batu berbentuk empat persegi panjang, yang masing-masing perukuran 3,8 m x 3,1 m dan 3,4 m X 2,3 m. Pada batu pertama yang berada di sebelah timur dijumpai dua buah makam(?) yang masing masing ditandai dengan "nisan" berupa batu tatapakan (batu umpak) serta batu ajeg (batu yang didirikan tegak). Di batu lainnya, makam yang ada ditandai juga dengan batu tatapakan. Ukuran batu tatapakan itu adalah 33 cm x 35 cm dengan tinggi sekira 25 cm. sedangkan batu ajeg berukuran 16 cm x 22 cm dengan tinggi 53 cm. Ketiga makam tersebut berarah hadap utara-selatan.

Di sudut tenggara halaman utama bangunan berundak ini terdapat sebuah batu datar dengan tonjolan di salah satu ujungnya. Benda yang dikenal dengan sebutan batu kasur itu berukuran 2 m x 1,4 m dengan tebal antara 30 cm hingga 90 cm dan diletakkan dengan arah barat-timur. Oleh sebagian masyarakat batu kasur ini dikatakan sebagai tilas pangcalikan (bekas tempat duduk) Prabu Siliwangi ketika menekuni semedinya sebelum ngahiang (moksa). Oleh karena itu di dekatnya masih dapat dilihat urut parukuyan (sisa pembakaran kemenyan dan bunga-bunga tabur).

Penelitian lanjutan Balai Arkeologi Bandung (1998) juga berhasil menginventarisasi beberapa temuan baru di luar catatan yang telah
dilakukan oleh N.J Krom. Tinggalan-tinggalan tersebut adalah tinggalan budaya klasik yang terdapat di Puncak Manik dan Batu Kasur di tepi aliran Sungai Cigalagah.

Puncak Manik terletak di sebelah tenggara Gunung Tampomas, atau sekitar satu setengah jam berjalan kaki dari Jalan Raya Buahdua. Dalam sejarah lokal, area yang ditemukan di Puncak Manik diberi nama dengan sebutan Mbah Cakrabuana, sahabat Prabu Siliwangi. Di Puncak Manik, bentuk-bentuk tinggalan arkeologis yang ditemukan terdiri dari arca Ganesa, arca binatang, dan sebuah batu berbentuk tumpeng yang terbuat dari semen. Dulu, batu seperti tumpeng tersebut terbuat dari batu, oleh karena dihancurkan oleh seseorang kemudian batu tersebut diganti baru dengan bahan semen.

Arca Ganesa yang terletak di kompleks Puncak Manik, terbuat dari batuan desit, digambarkan seeara sederhana seperti halnya arca-arca yang disebut sebagai arca tipe Pajajaran. Arca Ganesa memiliki ukuran tinggi 47 cm, bentang bahu 24 cm, dan keliling lingkar badan 41 cm. Arca digambarkan dengan posisi duduk bersila, tangan kiri dilipat di depan dada, dan tangan kanan dengan sikap sedang memegang belalai. Mahkota arca digambarkan sangat samar, sehingga sangat sulit menentukan tipe mahkota dari arca tersebut.

Di samping arca Ganesa, secara berdampingan di lokasi tersebut terdapat arca binatang yang juga dipahatkan secara sederhana pada
sebongkah batu. Menurut juru kunci, bongkahan batu tersebut menggambarkan dua ekor binatang yaitu harimau atau macan dan monyet. Namun, setelah dilihat secara saksama, hanya satu bentukan binatang yang terlihat jelas, yaitu bentuk harimau atau macan, dengan bagian kepala sudah hilang. Arca binatang tersebut digambarkan dalam posisi sedang berjongkok, kaki belakang ditekuk, dan kaki depan dalam keadaan lurus.

Situs terakhir yang sempat diamati berdasarkan laporan yang disampaikan kepada Balai Arkeologi Bandung saat itu adalah tinggalan
balok-balok batu di tepi aliran Sungai Cigalagah. Oleh masyarakat setempat tinggalan itu disebut Batu Kasur karena memiliki ukuran yang cukup besar dan seolah berbentuk seperti kasur. Balok-balok batu tersebut memiliki bentuk rata-rata persegi panjang, dengan variasi panjang antara 1 sampai 3 m. Dari cerita lokal, disebutkan dahulunya batu-batu tersebut pernah dijadikan sebagai sumber bahan batuan oleh Sangkuriang pada saat membendung Waduk Sanghyang.

Dari hasil yang telah dilakukan baik invetarisasi oleh N.J. Krom, maupun penelitian yang telah dilakukan oleh Balai Arkeologi Bandung,
perlu kiranya dilakukan sinkronisasi kegiatan penelitian. Sehingga semua hasil penelitian terdahulu dapat dimanfaatkan secara maksimal sebagai basis data dalam pengembangan penelitian yang dilakukan di kawasan yang sama.

Pengembangan hasil penelitian

Melongok ke masa lalu, apa yang telah dilakukan oleh Edah Jubaedah bersama Yayasan Padaringannya mungkin bukan merupakan temuan atau hal baru dalam penelitian arkeologi. Penelitian arkeologi yang akan dilakukan sebaiknya merujuk pada penelitian yang telah ada sebelumnya. Tidak menutup mata, tinggalan arkeologi yang terdapat di kawasan Gunung Tampomas membutuhkan perhatian dari berbagai kalangan, tidak hanya dalam bentuk kegiatan penelitian tetapi juga pengelolaan tinggalan dalam bentuk pemanfaatan. Tinggalan-tinggalan arkeologi tersebut sangat memerlukan berbagai bentuk penelitian lanjutan. Begitu juga dengan pemanfaatan hasil peneilitian yang sudah ada yang sangat perlu dikelola lebih lanjut bagi penambahan khazanah budaya masyarakat.

Karena tinggalan tersebut belum terkelola dan jalur yang menghubungkan tinggalan-tinggalan arkeologi di kawasan Tampomas tersebut masih sulit dicapai, perlu dilakukan pembenahan-pembenahan. Diharapkan melalui kegiatan tersebut berbagai bentuk tinggalan arkeologi tersebut nantinya dapat dimanfaatkan lebih lanjut bagi masyarakat lokal khususnya dan masyarakat luas pada umumnya. Karena kegiatan yang tersinergikan antarlembaga sangat diharapkan, dan untuk kegiatan ke depan tidak salah kalau kita merujuk dan mengacu kembali pada apa yang telah dijabarkan dalam peraturan tentang kepurbakalaan yang ada.
Sebutlah UU No.5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya dan Perda Kebudayaan Provinsi Jawa Barat No. 7 Tahun 2003 tentang Pengelolaan Kepurbakalaan, Kesejarahan, Nilai Tradisional dan Museum.***

Penulis, tenaga peneliti prasejarah pada Balai Arkeologi Bandung, anggota Asosiasi Prihistori Indonesia (API), dan Ikatan Ahli Arkeologi
Indonesia (IAAI) Komda Jawa Barat-Banten.

(Sumber: http://www.mail-archive.com/kisunda@yahoogroups.com/msg02207.html)
 



Baca juga: