Oleh-Oleh :: Opak Oded


Opak Oded


Opak OdedSelain Tahu, Sumedang juga memiliki makanan khas lainnya seperti ubi Cilembu, salak dan sawo. Namun ada satu makanan tradisional lain yang jadi senjata baru bagi kuliner Sumedang. Bulat, tipis dan renyah, begitulah opak Oded asal Conggeang yang kini mulai dilirik banyak orang.

Opak Oded mulai muncul sekitar tahun 1996. Setahun kemudian usaha ini sudah mulai berkembang. Sayang, krisis moneter yang terjadi di pertengahan tahun 1997 membuat usaha boga ini sempat mengalami penurunan. Atas usaha yang gigih serta kekonsistenan pemiliknya, Opak Oded pun bisa muncul kembali hingga jadi "booming" sekitar awal tahun 2000.

Makanan yang biasanya banyak dipesan ketika ada acara syukuran atau selamatan ini bukan saja terkenal di Sumedang, melainkan juga di Jawa Barat. Buktinya Opak Oded telah jadi unggulan baru makanan tradisional khas Parahyangan, dan Pak Oded terpilih menjadi duta para penjual opak di Sumedang.

Meskipun Opak ini sudah memberikan omset perbulan sekitar 100 juta lebih bagi pemiliknya, ternyata pengolahannya masih menggunakan cara-cara tradisional. Modifikasi yang dilakukan hanyalah dalam pengeringan sehingga bisa awet lebih lama tanpa menggunakan bahan pengawet. Tak heran jika usaha yang digawangi oleh lebih kurang 100 pegawai ini belum berani menerima pesanan dalam jumlah besar.

"Mungkin tahun 2008 kami bisa siap," demikian Pak Oded menyampaikan harapannya.

Ada kisah menarik dalam perjalanan Opak Oded selama ini. Opak yang sudah dikirim hingga Singapura ini ternyata mirip dengan salah satu makanan asal Jepang. Bahkan seorang pendatang Jepang sempat memberikan resepnya kepada Pak Oded. Sayang, opak bumbu ayam bawang hasil eksperimennya dianggap kurang cocok dengan lidah orang Sumedang hingga tidak diproduksi lagi.

Pak Oded yang memiliki misi agar makanan-makanan tradisional bisa lebih diperkenalkan ke masyarakat luas, menyebutkan filosofi pembuatan opak yang bisa dicontoh oleh kita sebagai manusia, "Opak mengalami beberapa kali proses produksi serta beberapa kali mentah sebelum jadi opak yang matang dan siap dikonsumsi masyarakat. Sama seperti manusia. Artinya setiap orang juga pasti akan mengalami beberapa kali fase kehidupan. Setelah ia selesai belajar atau menuntut ilmu, ia akan mentah lagi sebelum akhirnya ia menemukan pekerjaan yang tepat. Jadi sama seperti opak, manusia harus matang dulu sebelum ia benar-benarbisa keluar ke masyarakat luas."

Jadi masihkah opak diragukan sebagai senjata baru wisata boga Sumedang?