Obyek Wisata :: Museum, Bangunan & Monumen :: Museum Prabu Geusan Ulun


Museum Prabu Geusan Ulun


Museum Prabu Geusan UlunMerupakan salah satu museum terlengkap di Jabar, kecuali Banten dan Cirebon. Di gedung tua berarsitektur Sunda dengan ornament kayu jati yang masih berdiri kokoh ini tersimpan beragam warisan budaya para leluhur. Mulai dari abad ke-15 hingga abad ke-19 Masehi atau sejak zaman kerajaan sampai masa penjajahan Belanda. Benda-benda cagar budaya di samping merupakan wakaf, ada yang berstatus hibah atau milik pribadi/titipan.

Yang merupakan wakaf, di samping gamelan sebanyak 7 set, juga terdapat benda-benda pusaka leluhur Sumedang. Adapun asal mula gamelan-gamelan itu, di samping merupakan buatan daerah Sumedang ada pula yang dibuat di Mataram. Di antara pusaka leluhur Sumedang, terdapat Mahkota Bino Kasih yang dipergunakan pada waktu penobatan Prabu Geusan Ulun menjadi Raja Sumedanglarang tahun 1578. Selain terdapat keris milik Prabu Geusan Ulun, Panunggal Naga, dan keris milik Pangeran Kornel (Pangeran Kusumadinata IX), Nagasasra yang dipakai beliau saat berjabat tangan dengan Daendels dalam peristiwa Cadas Pangeran tahun 1811.

Nama Geusan Ulun diambil dari nama tokoh sejarah yang kharismatik dan berjasa dalam menyebarkan agama Islam di wilayah bekas Pajajaran yang masuk ke wilayah Sumedanglarang. Museum Prabu Geusan Ulun terletak di jantung Kota Sumedang, menggunakan gedung tua berarsitektur tradisional Sunda berusia hampir tiga ratus tahun. Museum masih tampak utuh dan kokoh berdiri di sebelah gedung Negara yang juga kediaman resmi keluarga Bupati Sumedang. Gedung Negara ini dibangun pada pertengahan abad ke-19 pada masa pemerintahan Pangeran Sugih. 

Sejak berdirinya sampai sekarang, Museum Prabu Geusan Ulun memiliki 6 buah gedung, dengan luas lahan 1,8 hektare dan dikelilingi benteng setinggi 3 meter. Di antaranya, Gedung Srimanganti, didirikan tahun 1706 oleh Bupati Dalem Adipati Tanujaya yang memindahkan pusat kota kabupaten dari Tegal Kalong ke tempat ini. Hingga tahun 1950, Gedung Srimanganti menjadi kediaman resmi bupati atau keluarganya dan antara tahun 1950 sampai 1981 dipergunakan Kantor Pemda Sumedang serta pernah mengalami pemugaran bersamaan gedung Bumi Kaler, tahun 1982.

Setelah itu, Srimanganti diserahkan kepada Yayasan Pangeran Sumedang oleh Direktur Kebudayaan Depdikbud masa itu. Gedung Srimanganti dan Bumi Kaler, sebelumnya masuk dalam Monumenter Ordonantie tahun 1931 sebagai benda Cagar Budaya. Dalam gedung ini disimpan cukup banyak koleksi benda sejarah, antara lain Meriam Kalantaka peninggalan kompeni tahun 1656, Gamelan Panglipur peninggalan Pangeran Rangga Gede tahun 1625-1633, Gamelan Pangasih peninggalan Pangeran Kornel (1791-1828), serta Gamelan Sari Arum peninggalan Pangeran Sugih (1836-1882).

Sementara itu, Gedung Bumi Kaler yang didirikan tahun 1850 atau masa pemerintahan Pangeran Kusumah Adinata (Pangeran Sugih) 1836-1882, dipergunakan sebagai tempat kediaman Bupati Sumedang. Bentuk arsitektur khas sunda berupa Julang Napak, dibuat pada umumnya dari bahan kayu jati. Di dalam gedung ini disimpan, antara lain kitab/naskah kuno terdiri Alquran tulisan tangan abad 19, Kitab Waruga Jagat awal abad ke-18, serta Kitab Riwayat abad ke-19 dan huruf pegon. Selain kitab itu, juga kumpulan koleksi uang dalam dan luar negeri, puade, tempat anak dikhitan abad 19, Payung Kebesaran abad ke-17,18, dan 19, jam berdiri, peninggalan Pengeran Suria Atmaja, buku-buku di ruang perpustakaan.

Sementara itu, Gedung Gamelan juga didirikan tahun 1973 sumbangan dari Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta masa itu. Oleh Pemda diserahkan YPS dan kemudian digunakan menyimpan sebagian gamelan serta alat musik tradisional lainnya, selain digunakan tempat latihan tari-tarian. Di dalamnya tersimpan 10 unit gamelan, di antaranya Gamelan Sari Oneng Parakan Salak abad ke-19, pernah dibawa pameran di Amsterdam tahun 1883, di Paris 1889, dan Chicago 1893. Kemudian Gamelan Sari Oneng Mataram, abad ke-17 peninggalan Pangeran Penambahan, serta sejumlah gamelan lain abad ke-18.

Sementara Gedung Gedeng yang pada mulanya dibangun pada tahun 1850 oleh Pangeran Suria Kusumah Adinata, digunakan menyimpan pusaka, senjata-senjata leluhur, dan gamelan peninggalan masa lalu. Gedung Gedeng juga sempat dipugar pada tahun 1950, tapi fungsinya masih tetap untuk menyimpan pusaka leluhur. Baru kemudian, pada tahun 1990 dibangun Gedung Pusaka baru sehingga sebagian besar koleksi pusaka dipindahkan ke gedung pusaka yang baru ini.

Berdasarkan klasifikasi jenis koleksi yang secara sederhana disusun, Museum Prabu Geusan Ulun memiliki koleksi jenis Geologika sebanyak 4 buah berupa permata, granit, andesit, Geografika (13) berupa peta, grafik, alat pemetaan, Biologika (28), Etrografika (1.629)/ identitas suatu etnis, Arkeologika (2), Historika termasuk buku sejarah (1.629), kemudian Filologika (44) dan Keramika (151). Koleksi ini, merupakan kantor penting, karena melalui koleksi masyarakat dapat mengetahui dan mempelajari tentang sejarah alah, ilmu pengetahuan dan budaya.